Hida

Segala nestapa melebur
dalam kejernihan Azusa,
disaksikan Hotaka nan megah

Sesaat diri terpaku,
seakan waktu kehilangan denyutnya,
di atas Jambatan Kappa
tenggelam antara realiti dan fantasi

Bayu berbisik lembut,
menyisir hamparan sasa Konashidaira.
Myojin menyambut dengan cahaya mentari.
Awan kelak berarak menutup Tokusawa,
jua rimbun pepohon 
setia memayungi hingga ke Yokoo

Dua jam menakah dari Jambatan Hondani
Karasawa menyapa cerlang
dengan rona merah, kuning dan jingga
berpintal menari di lerengan

Di bawah langit yang mendung putih,
gerimis menghentam kanvas tenda,
mendendangkan lagu pengantar lena,
diiringi tawa dan bicara
dalam bahasa-bahasa asing,
yang sulit difahami

Esoknya menakah Seitengrat,
hingga ke pelana, di sana sanso menanti.
Karasawa mengecil di kejauhan,
bagai noktah yang hilang ditelan bumi,
sedang Hotaka menjulang di sisi—
raksasa batu yang membisu,
menanti tekad untuk diuji.

Tatkala mata menentang puncaknya,
angin menderu merobek ketenangan,
menggugat nyali, menggetarkan keyakinan.
Tiada azimat selain cekal,
tiada sandaran selain sisa kudrat,
menghela jasad meredah dingin dan ribut,
meniti batu-batu yang goyah,
selangkah demi selangkah,
antara keberanian dan kepasrahan,
sejam menagih segala daya,
jerihnya terasa sepanjang usia

Di hujungnya menanti
Takhta Hida yang dicari-cari
angkuh membelah langit
sedang diri yang sekecil debu
langsung ditelan rasa kerdil 
di tengah samudera semesta

Dan bau, citra dan rasa itu
masih berlingkar dalam ingatan,
meski hari-hari telah berlalu
tatkala kaki kembali berpijak
di pangkuan tanah ibunda.


Kuala Lumpur, 18 Oktober 2026

Nyos

Kala fajar mulai menyingsing
Tersingkaplah jendela sebuah duka

Alam membisu seribu nada
Hanya deru angin bertandang
Membisik pada kelana
Bahawa di sini segalanya telah MATI

Dunia menjadi kaku
Dedaunan menjadi layu
Serangga kejur kejang
Ribuan mayat dan bangkai terbungkam melata
Mata terjegil, muka membiru, mulut menganga
Tanpa darah, tanpa luka
Enjin dan mesin bergasolin berhenti
Kenderaan kaku termati

Bukan Dia tidak pernah mengingatkan
Dua tahun lampau; isyarat itu keras 
Di Monoun; 37 jiwa melayang
Mekanisme disedari, namun tidak tersebar
Kejadian difahami, namun dianggap ANOMALI 

Dan ia pasti kan berulang
Kerana manusia itu sesungguhnya pelupa

Kuala Lumpur, 
3 September 2026 

Hida

Segala nestapa melebur dalam kejernihan Azusa, disaksikan Hotaka nan megah Sesaat diri terpaku, seakan waktu kehilangan denyutnya, di atas J...